12 November 2011

Babak Baru Newmont di Sumbawa

Oleh: Julmansyah (Peminat masalah pembangunan dan ekologi sosial) Opini Suara NTB, updated: Rabu 19/10/2011, http://www.suarantb.com/2011/10/19/Sosial/detil5%201.html
SELAMA satu tahun terakhir, berbagai polemik muncul seputar keberadaan, dampak positif dan negatif dari PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT). Bahkan Agustus –September 2011 terjadi amuk massa di sekitar tambang Batu Hijau Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang mengakibatkan hampir lumpuhnya aktivitas PTNNT. Akibatnya, menimbulkan kerugian perusahaan. Amuk massa ini mengindikasikan adanya sesuatu yang menghambat proses relasi antara masyarakat, pemerintah daerah dan perusahaan tambang. Terlepas bahwa apakah relasi ini ditunggangi dengan berbagai kepentingan-kepentingan politis dan ekonomis. Akan tetapi amuk massa ini dapat dijadikan sebagai sarana bagi suara-suara diam di masyarakat untuk mengekspresikan “frustrasi sosial” masyarakat lingkar tambang yang salah satu pintu masuknya soal tenaga kerja atau rekruitmen tenaga kerja. Amuk massa juga bisa dibaca melalui kaca mata bahwa ada disharmoni sosial dan ekonomi antara masyarakat di sekitar tambang dengan PTNNT. Apalagi masyarakat dihinggapi dengan perasaan bahwa mereka yang dekat dengan sumber alam yang sedang dikeruk tetapi sedikit mendapatkan manfaat balik dari kekayaan tersebut. Sekalipun secara legal formal kita mengenal Hak Menguasai Negara (HMN) atas kekayaan alam, dan inilah konsekuensi atas NKRI. Dengan HMN inilah atas nama negara kekayaan alam dikeruk, yang manfaatnya didistribusikan oleh Pemerintah Pusat kembali ke daerah dengan berbagai skema pendapatan daerah. Sisi lain juga PTNNT juga melalui skema community development (comdev) sebagai mandat Kontrak Karya serta coorporate social responsibility (CSR) atau tanggungjawab sosial perusahaan mandat UU Perseroan Terbatas, bekerja bersama masyarakat sekitar tambang Batu Hijau. Pertanyaannya adalah belum cukupkah atau sudah tepatkah semua skema manfaat balik dari pemerintah dan perusahaan pada masyarakat sehingga frustrasi sosial/amuk massa oleh masyarakat Batu Hijau itu terjadi? Inilah tantangan yang harus dijawab oleh PTNNT ketika memulai babak baru di Blok Dodo Rinti Kabupaten Sumbawa. Sepintas potret-potret yang terjadi, menggambarkan bagaimana PTNNT diposisikan dan memposisikan selama belasan tahun sejak konstruksi 1998 hingga saat ini di Sekongkang Sumbawa Barat. Atau dengan bahasa lain, inilah buah dari proses ber-relasi selama ini, sebagai tamu di negeri Tana Intan Bulaeng. Mempertimbangkan hal ini, maka sudah saatnya paradigma tamu di negeri Tana Intan Bulaeng harus dirubah oleh manajemen PTNNT menjadi bagian dari masyarakat Tana Intan Bulaeng. Dengan kemauan baik (good will) PTNNT maka perlu melakukan reposisi dan redefinisi diri PTNNT menjelang masa eksplorasi di Blok Dodo Rinti Kabupaten Sumbawa. Untuk memulai babak baru Newmont di Sumbawa, maka sejumlah pertanyaan di atas harus dijawab. Membenahi Pola Relasi Ada tiga pihak yang terus menerus ber-relasi dalam konteks membangun babak baru Newmont di Sumbawa yakni Pemerintah Daerah, masyarakat dan PTNNT. Maka belajar dari pengalaman Newmont di KSB maka dapat dijadikan rujukan dalam membenahi pola relasi dengan tiga entitas di atas. Lokus sudah berbeda, maka fokus juga harus berbeda. Jangan sampai metode dan strategi lama digunakan untuk menyelesaikan masalah dan tantangan baru. Karena dinamika sosial serta aktor yang terlibat telah berubah. Telah timbul pandangan dan penilaian umum tentang Newmont, bahwa pola Newmont di KSB seperti “negara dalam negara”, entah bagaimana penilaian ini timbul dan menjadi wacana umum. Akan tetapi hal ini terkait dengan cara dan pola Newmont ber-relasi dengan pihak-pihak di sekitarnya. Maka hal ini harus bisa diminimalisir dengan perubahan pola relasi. Relasi dilandaskan pada prinsip mutual responsibility. Bahwa pola relasi melalui komunikasi antar pihak tidak harus ketika timbul masalah yang mengganggu proses eksplorasi akan tetapi membangun pemahaman bagaimana sejak awal memberikan manfaat optimal bagi rakyat pemilik sah kedaulatan kekayaan sumberdaya alam serta meminimalisir peluang yang akan berpotensi mengulangi dampak yang telah terjadi di Batu Hijau. Sehingga berbagi tanggungjawab (share responsibility) juga antar pemerintah dan Newmont akan betul-betul dapat diimplementasikan. Demikian pula segala rencana Newmont yang dilaksanakan di wilayah Kabupaten Sumbawa dapat juga dikomunikasikan bukan hanya informasi paket-paket proyek dari CSR atau Comdev tetapi juga terkait dengan baseline data sosial ekonomi budaya, metode dan strategi pemberdayaan masyarakat yang akan digunakan juga harus menjadi bagian dari bagaimana mewujudkan babak baru Newmont di Kabupaten Sumbawa. Selanjutnya, baseline data maupun hasil penjajakan kebutuhan masyarakat (need assessment) dapat juga menjadi bahan dalam perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan oleh pemerintah daerah. Di sinilah persinggungan kepentingan yang baik antara Newmont dengan pemerintah daerah. Adaptif Management Spirit manajemen Newmont untuk menggunakan pendekatan yang berbeda di Sumbawa dengan di KSB harus diapresiasi. Pendekatan tersebut dimulai dengan sejumlah kesepahaman (agreement) dengan Pemda dan kepala desa di sekitar wilayah eksplorasi, Dengan pola baru, diharapkan bukan sekedar lips servis sebagai upaya untuk mengambil hati masyarakat Sumbawa akan tetapi manajemen Newmont harus bisa menjadikan Samawa pang ate (Sumbawa selalui di hati menejemen Newmont) dan Newmont untuk kabalong desa darat (hadir bermanfaat bagi tanah dan masyarakat Sumbawa). Dalam lawas Sumbawa disebutkan Mana tau barang kayuq Lamin to sanyaman ate Yanan si sanak parana. Siapa saja harus diperlakukan sama, dengan tanpa memandang keturunan siapa orang itu, dari mana asalnya, dan apa tingkat pendidikannya. Yang penting kehadiran diri orang itu dapat membawa ketentraman hati. Ketentraman hati yang dapat dimunculkan oleh kehadiran diri individu yang lain, maka diri yang lain itu akan dipandang sebagai sanak keluarga. Dengan berprinsip pada nilai-nilai lokal setempat, maka manajemen Newmont harus adaptif dengan nilai tersebut. Apalagi ruang sangat terbuka agar Newmont dapat menjadi bagian integral dari masyarakat Sumbawa. Kehadiran tentu saja bukan sekadar diwujudkan dari sejumlah penghargaan yang dapat meningkatkan nilai saham tetapi dirasakan secara nyata oleh masyarakat yang paling dekat dengan sumberdaya yang sedang dikeruknya. Maka babak baru Newmont di Sumbawa dimulai dengan menghargai nilai dasar masyarakat setempat.

7 November 2011

Jaran Pusang Plampang, Betulkah Sisa Gunung Purba?

Sungguh banyak rahasia Sumbawa yang belum terkuak. Setelah Newmont menemukan cebakan emas di Dodo Rinti entah apalagi yang akan terkuak yang menyedot perhatian orang. Seperti halnya sebutan Tanah Intan Bulaeng, ternyata sungguh jadi kenyataan bahwa tanah Sumbawa dipenuhi oleh Bulaeng (emas, intan). Meski belum ada penjelasan sejak otentik sejak kapan kata Intan Bulaeng mulai digunakan dalam istilah/kosa kata dalam percakapan kebudayaan Sumbawa. Seperti halnya dugaan liar saya bahwa Sumbawa memiliki bukti adanya Gunung-gunung purba. Kalau kita cek lewat google earth, ternyata Gunung Jaran Pusang saya duga merupakan gunung aktif. Kalau dilihat dari puncak merupakan bekas letusan erupsi dengan lebar kurang lebih 5,68 km, meski tidak banyak rekaman tulisan soal ini. Sementara Tambora yang meletus 10 April 1815 letusannya 7 SR yang merupakan letusan terdahsyat di dunia, dengan lebar lubang bekas letusan sekitar lebih kurang 7,30 km. Artinya dari sisi lebar lubang pasti pernah terjadi letusan dahsyat di Jaran Pusang Plampang ini. Mari kita telusuri fakta-fakta tentang Sumbawa....

19 Oktober 2011

Rungan Samawa dan Komunitas Peduli Desa Darat (KPDD): Salah Satu Prototipe Jurnalisme Warga di Sumbawa

Sekitar tahun 1990-1998 pers mahasiswa menjadi pers alternatif. Pers umum saat itu orde baru diancam dengan pembredelan, sehingga kerap tidak banyak mengulas perihal yang terkait dengan kekuasaan. Pers mahasiswa (persma) melalui PPMI (Perkumpulan Perms Mahasiswa Indonesia) mampu mengorganinser diri menjadi alternatif. Kini saluran informasi tidak bisa lagi di kontrol dalam dunia yang borderless ini, akibat revolusi teknologi informasi. Kini berbagai portal, situs, blog pribadi serta jejaring sosial Fesbuk, twiter dll menjadi saluran alternatif untuk mengabarkan antar warga. Berbagai tema, persoalan, informasi diperdebatkan dan diwacanakan di media jejaring sosial. Jurnalis warga (Citizen journalis) adalah warga biasa yang menjalankan fungsi selayaknya jurnalis profesional yang pada umumnya menggunakan channel media baru yaitu internet untuk menyebarkan informasi dan berita yang mereka dapat. Citizen journalism adalah praktek jurnalisme yang dilakukan oleh non profesional jurnalis dalam hal ini oleh warga. Dan Gillmor, dalam bukunya “We the Media: Grassroots Journalism by the People, for thePeople,” menyebutkan bahwa telah muncul ekosistem media baru yang memungkinkan adanya percakapan multidirectional yang memperkaya dialog di tataran masyarakat sipil. Nurul Hasfi berpendapat sejak tahun 2002-nan, citizen media telah berkembang pesat yang mencoba mencari eksistensi di tengah atmosfer media tradisional. Dengan adanya internet, citizen media mampu menyebarkan informasi dalam bentuk teks, audio, video, foto, komentar dan analisis. Bahkan mampu menjalankan fungsi pers seperti watchdog, filter informasi, pengecekan fakta bahkan pengeditan. Nah bagaimana memposisikan Group Fesbuk Rungan Samawa dan Group Fesbuk Komunitas Peduli Desa Darat dalam konteks ini?. Nampak jelas Rungan Samawa (RS) dan KPDD mempu mmefasilitasi keinginan, suara warga dalam media online yang kemudian dalam bahasa Dan Gillmor menjadi percapakan multidirectional. Hingga tulisan ini dibuat RS memiliki 3.112 anggota, 275 foto dan 44 dokumen. RS lebih dulu hadir jika dibandingkan dengan KPDD sehingga anggota jauh lebih banyak bahkan dengan macam tema diskusi yang beragam dari seputar info sampai dengan pembahasan roda pemerintahan. Suatu suasana yang tidak kita temukan di tahun-tahun di bawah 2000. Meski demikian KPDD telah memiliki 660 anggota dengan 77 foto dan 40 dokumen. Salah satu cirri jurnalis warga (citizen journalism) adalah kesukarelaan warga (anggota group) untuk meng-upload, reportase, berita, investigasi yang kemudian menjadi konsumsi bagi warga lain di group RS dan KPDD. Dari berita up load tersebut peran sebagai wactdog bahkan warga lain secara realtime mengikuti perkembangan terhadap tema yang dipercakapkan tersebut. Terjadi interaksi antar warga di tengah media mainstream. Dalam pengamatan saya di RS setiap hari terjadi transaksi gagasan yang begitu dinamis tidak kuran dari 30 broadcast pada berbagai tema di group tersebut. Pada KPDD salah satu peran yang menarik secara realtime di update oleh admin adalah dinamika Pasar Seketeng. Sebuah model (prototype) jurnalisme warga di Sumbawa yang begitu dinamis. Menjadi alternatif bagi perbaikan tata pemerintahan, pengetahun dan pertukaran pengalaman. Saya kira kita harus memberi apresiasi pada admin kedua group di fesbuk ini, karena telah mampu mewadahi sarana pertukaran informasi (experience and information exchange) antar warga Samawa dimana pun berada. Dengan hanya menggunakan handphone setiap warga Sumbawa dapat mengirimkan berita, informasi dan kabar dari tengah sawah, hutan sekalipun sejauh masih terdekteksi signal telepon. Dengan kemudiahan ini, tanpa pengalaman dan pengetahuan jurnalistik sekalipun setiap warga dapat meng-up load apa saja yang dianggapnya dapat di share antar warga di media fesbuk. Nurul Hasfi menjelaskan Munculnya internet mobile akan membawa perubahan dramatik tentang bagaimana berita dibuat dan disebarkan. Inilah fenomena yang terjadi di Indonesia dimana mobile internet berkembang begitu pesat, yang mulai dijajaki oleh media tradisional di Indonesia, misalnya dengan memproduksi e-paper yang bisa didistribusikan lewat mobile internet. Citizen media akan mendorong transparasi yang semakin terbuka dalam pelaporan berita. Hal ini menyebabkan para jurnalis profesional mulai membuat blog untuk mencari feedback informatif dari audience.

27 Juni 2011

POTRET PENDIDIKAN DAN KESEHATAN DI SUMBAWA (Perspektif Hak Ekonomi Sosial Budaya)


Judul Buku:PETA JALAN ALOKASI ANGGARAN BERBASIS PEMENUHAN HAK DASAR (Pembelajaran Analisis Partisipatif Indikator Hak Ekonomi Sosial Budaya di Kab. Sumbawa).
Penyusun: Amir Mahmud, Muslim dan Amrullah
Editor: Julmansyah dan Sambirang Ahmadi
Hal: 257 Halaman
Tahun: Desember 2008
Penerbit: SAMAWA Center dan Yayasan TIFA Jakarta



Buku ini merupakan rekaman proses dari program monitoring indikator anggaran yang berbasis pemenuhan hak dasar masyarakat di Kabupaten Sumbawa. Program ini ingin melihat bagaimana pelayanan pendidikan dan kesehatan pada empat kluster desa. Desa Pesisir di Desa Teluk Santong Kec. Plampang; Desa Pertanian di Desa Songkar Moyo Hulu, Desa Hutan di Desa Batudulang Kec. Batulanteh serta di Desa Sub Urban di Desa Kalimango Kec. Alas. Program ini atas dukungan Yayasan TIFA Jakarta selama 2007-2008.

Hak atas kesehatan meliputi hak untuk terhindarkan dari kelahiran-mati, kematian anak/bayi, dan berkembangnya anak yang sehat; hak atas perbaikan semua aspek kesehatan lingkungan dan industri; hak untuk menikmati pencegahan, pengobatan, dan pengendalian segala penyakit menular, endemik, penyakit lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan; hak untuk menikmati penciptaan kondisi-kondisi yang akan menjamin semua pelayanan dan perhatian medis dalam sakitnya seseorang (Pasal 12 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2005).

Hak atas pendidikan menegaskan pengakuan akan hak setiap orang atas pendidikan, di mana pendidikan mampu memandu perkembangan kepribadian manusia seutuhnya, kesadaran akan harga diri, dan memperkuat penghormatan atas hak-hak asasi manusia dan kebebasan manusia yang mendasar. Dalam Pasal 13 ayat (1) UU No. 11 Tahun 2005 lebih lanjut dijelaskan bahwa, pendidikan harus memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat bebas, meningkatkan rasa pengertian, toleransi serta persahabatan antar semua bangsa, semua kelompok ras, etnis atau agama, dan mempromosikan agenda hak asasi manusia dan pemeliharaan perdamaian.

Buku ini juga memaparkan Hasil analisis anggaran dan proses penyusunan indikator hak dasar secara partisipatif oleh Samawa Center selama tahun 2008, menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan anggaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan. Analisis anggaran tahun 2006 dan 2007 APBD Kabupaten Sumbawa.

Banyak temuan menarik terkait dengan implementasi pemenuhan hak dasar pendidikan dan kesehatan di 4 desa. Disamping itu menggunaan tools (alat/instrumen) dalam monitoring akan sangat bermanfaat bagi perumusan kebijakan bagi DPRD Sumbawa.